Beranda / Sejarah Muhammadiyah Pringsewu

Sejarah Muhammadiyah Pringsewu

Author
muhammadiyahpringsewu
Published April 23, 2026

 


Catatan harian dari Atak Heuriyanto , seorang tokoh kunci yang mendokumentasikan pahit getirnya merintis dakwah Muhammadiyah di Bumi Pringsewu.



        1. Masa Perintisan (Sekitar 1939 - 1949)

        Cikal bakal Muhammadiyah di daerah ini dipelopori oleh Sudarsono, seorang lulusan Madrasah            Mu'allimin Yogyakarta.

  • Motivasi: Sudarsono memiliki cita-cita kuat untuk memurnikan ajaran Islam sesuai tuntunan Rasulullah SAW, terinspirasi dari pengalamannya di Yogyakarta.
  • Hambatan Awal: Upaya awal di Gadingrejo menemui banyak tantangan. Sudarsono sering dicemooh sebagai "kyai muda gila" atau "kementus" oleh masyarakat yang belum menerima pembaharuan.
  • Strategi Dakwah: Setelah pindah ke Pringsewu pada 1949, ia mulai merangkul para pedagang pasar. Pengajian dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan berpindah-pindah (model arisan) selama 4 tahun agar tidak menimbulkan kecurigaan atau pertentangan dini dari masyarakat.

        2. Fase Embrio: Diniyah Putri (1953)

        Sebelum organisasi resmi berdiri, "embrio" Muhammadiyah muncul melalui jalur pendidikan.

  • Pendirian Diniyah Putri: Pada tahun 1953, Sudarsono dan rekan-rekan mendirikan Diniyah Putri untuk anak-anak perempuan.
  • Sosialisasi: Melalui sekolah inilah lagu-lagu kepanduan dan identitas Muhammadiyah mulai diperkenalkan kepada masyarakat secara perlahan melalui anak-anak didik.

        3. Kelahiran Resmi: Peran "Sang Bidan" (1956)

        Momentum besar terjadi dengan kedatangan Atak Huriyanto pada Juli 1956. Ia dijuluki sebagai             "bidan" karena perannya dalam mengurus legalitas organisasi.

  • Pembentukan Ranting: Pada 14 Juli 1956, dalam rapat yang dihadiri 20 orang, disepakati berdirinya Muhammadiyah Ranting Pringsewu.
  • Pengurus Pertama: Sudarsono terpilih sebagai Ketua, didampingi Hadi Sucipto (Penulis/Sekretaris), S. Sudarisman (Bendahara), serta tokoh lain seperti Md. Sarbini dan Suherman.
  • Legalitas: Atak Huriyanto berperan vital mengurus Kartu Tanda Anggota (KTA) langsung ke Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Yogyakarta agar ranting tersebut sah secara organisasi.

        4. Ekspansi Amal Usaha Pendidikan

        Pendidikan menjadi pilar utama kemajuan Muhammadiyah di Pringsewu:

  • SR VI Muhammadiyah: Didirikan pada 15 Juli 1956. Sekolah ini meraih prestasi gemilang dengan tingkat kelulusan yang melampaui sekolah negeri saat itu, sehingga menarik minat masyarakat luas.
  • Mualimin: Sudarsono sempat mencoba mendirikan sekolah Mualimin (seperti di Yogyakarta), namun awalnya kurang mendapat sambutan karena masyarakat belum terbiasa dengan model kurikulumnya.

        Tokoh-Tokoh Kunci

  • Sudarsono: Perintis utama dan konseptor gerakan.
  • Atak Huriyanto (Ahura): Penggerak administrasi dan kepala sekolah pertama SR VI Muhammadiyah.
  • H. Sujak: Pendahulu yang memberikan inspirasi keberanian dalam menentang adat yang tidak sesuai ajaran Islam.
  • Para Pedagang Pelopor: H.S. Sudarisman, H. Abu Bakar, Purwousodo, M. Abunawal, dan lainnya yang menyokong dana serta tempat pengajian awal.