Catatan
harian dari Atak Heuriyanto ,
seorang tokoh kunci yang mendokumentasikan pahit getirnya merintis dakwah
Muhammadiyah di Bumi Pringsewu.
1. Masa Perintisan (Sekitar 1939 - 1949)
Cikal
bakal Muhammadiyah di daerah ini dipelopori oleh Sudarsono, seorang
lulusan Madrasah Mu'allimin Yogyakarta.
- Motivasi: Sudarsono memiliki
cita-cita kuat untuk memurnikan ajaran Islam sesuai tuntunan Rasulullah
SAW, terinspirasi dari pengalamannya di Yogyakarta.
- Hambatan Awal: Upaya awal di Gadingrejo
menemui banyak tantangan. Sudarsono sering dicemooh sebagai "kyai
muda gila" atau "kementus" oleh masyarakat yang belum
menerima pembaharuan.
- Strategi Dakwah: Setelah pindah ke
Pringsewu pada 1949, ia mulai merangkul para pedagang pasar. Pengajian
dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan berpindah-pindah (model arisan)
selama 4 tahun agar tidak menimbulkan kecurigaan atau pertentangan dini
dari masyarakat.
2. Fase Embrio: Diniyah Putri (1953)
Sebelum
organisasi resmi berdiri, "embrio" Muhammadiyah muncul melalui jalur
pendidikan.
- Pendirian Diniyah Putri: Pada tahun 1953, Sudarsono
dan rekan-rekan mendirikan Diniyah Putri untuk anak-anak perempuan.
- Sosialisasi: Melalui sekolah inilah
lagu-lagu kepanduan dan identitas Muhammadiyah mulai diperkenalkan kepada
masyarakat secara perlahan melalui anak-anak didik.
3. Kelahiran Resmi: Peran "Sang Bidan"
(1956)
Momentum
besar terjadi dengan kedatangan Atak Huriyanto pada Juli 1956. Ia
dijuluki sebagai "bidan" karena perannya dalam mengurus legalitas
organisasi.
- Pembentukan Ranting: Pada 14 Juli 1956, dalam
rapat yang dihadiri 20 orang, disepakati berdirinya Muhammadiyah
Ranting Pringsewu.
- Pengurus Pertama: Sudarsono terpilih sebagai
Ketua, didampingi Hadi Sucipto (Penulis/Sekretaris), S. Sudarisman
(Bendahara), serta tokoh lain seperti Md. Sarbini dan Suherman.
- Legalitas: Atak Huriyanto berperan
vital mengurus Kartu Tanda Anggota (KTA) langsung ke Pimpinan Pusat (PP)
Muhammadiyah di Yogyakarta agar ranting tersebut sah secara organisasi.
4. Ekspansi Amal Usaha Pendidikan
Pendidikan
menjadi pilar utama kemajuan Muhammadiyah di Pringsewu:
- SR VI Muhammadiyah: Didirikan pada 15 Juli
1956. Sekolah ini meraih prestasi gemilang dengan tingkat kelulusan yang
melampaui sekolah negeri saat itu, sehingga menarik minat masyarakat luas.
- Mualimin: Sudarsono sempat mencoba
mendirikan sekolah Mualimin (seperti di Yogyakarta), namun awalnya kurang
mendapat sambutan karena masyarakat belum terbiasa dengan model
kurikulumnya.
Tokoh-Tokoh Kunci
- Sudarsono: Perintis utama dan
konseptor gerakan.
- Atak Huriyanto (Ahura): Penggerak administrasi dan
kepala sekolah pertama SR VI Muhammadiyah.
- H. Sujak: Pendahulu yang
memberikan inspirasi keberanian dalam menentang adat yang tidak sesuai
ajaran Islam.
- Para Pedagang Pelopor: H.S. Sudarisman, H. Abu
Bakar, Purwousodo, M. Abunawal, dan lainnya yang menyokong dana serta
tempat pengajian awal.
